• Prev Chapter
  • Background
    Font family
    Font size
    Line hieght
    Full frame
    No line breaks
  • Next Chapter

Bab 554 Siapa yang Bernama Dilon

“Kalian cari orang yang sudah membawa kabur uang kalian sana! Untuk apa kalian mencariku?!*

Dilon menyilangkan kedua kakinya di atas meja, seolah–olah menunjukkan sikap bahwa dia yakinbiarpun dia enggan mengembalikan uang tersebut, Ardika tidak bisa melakukan apa–apa padanya.

“Dilon! Dasar penipu! Apa kamu pikir kami nggak bisa menuntutmu?!”

Elsy tidak pernah menghadapi situasi seperti ini. Saking emosinya, dia bahkan hampir meneteskan air

mata.

“Terserah kalian saja.”

Dilon tertawa dingin.

Apa dia takut kalau Grup Bintang Darma menuntutnya secara hukum?

Tentu saja tidak. Lagi pula, proses hukum ini bahkan bisa berlanjut satu tahun hingga dua tahun.

Orang yang terburu–buru ingin mengembangkan bisnis bukan dirinya, melainkan Grup Bintang Darma.Orang yang butuh pabrik juga bukan dirinya, melainkan Grup Bintang Darma.

“Usir mereka dari sini!”

Dilon melambaikan tangannya dengan kesal dan berkata, “Berani–beraninya kalian bersikap lancangdi hadapanku! Coba kalian cari tahu dulu siapa aku!”

Beberapa anak buahnya itu langsung berjalan menghampiri Elsy dan yang lainnya, lalu mengusir

mereka dengan ekspresi ganas.

“Apa kalian nggak dengar ucapan Bos kami?! Cepat pergi sana!”

“Kalau kalian nggak pergi juga, kami akan mematahkan kaki kalian!”

Sorot mata Ardika berubah menjadi dingin. “Dilon, kamu benar–benar nggak berniat mengembalikan

uang kami?”

“Memangnya kenapa? Eh bocah, memangnya apa yang bisa kamu lakukan padaku?”

Dilon mendengus dingin, lalu menoleh ke arah salah satu anak buahnya dan berkata, “Sepertinya kitaharus menggertak bocah itu. Cepat panggil semua anggota kita ke sini, agar mereka bisa menambah

wawasan mereka!”

+15 BONUS

“Baik!”

Anak buah Dilon itu memelototi Ardika dengan tajam, lalu berbalik dan berjalan keluar dari ruangan.Setelahnya, dia meneriakkan beberapa patah kata dengan keras.

Sesaat kemudian, terdengar langkah kaki banyak orang dari arah luar ruangan.

Mendengar dari suara langkah kaki saja sangat jelas bahwa jumlah orang yang sedang berjalanmenuju ruangan tidaklah sedikit.

Benar saja. Sesaat kemudian, puluhan orang langsung menerjang masuk ke dalam ruangan. Ruanganyang sangat luas itu langsung dipadati dengan orang.

Sorot mata tajam orang–orang itu membuat Elsy dan beberapa karyawan Grup Bintang Darmagemetar ketakutan dan menunjukkan sorot mata panik.

Dulu Dilon adalah seorang preman.

Walaupun sudah lama beralih profesi dan menjalankan bisnis legal, tetapi dia tetap tidak memutuskanhubungannya dengan dunia preman.

Dengan memelihara sekelompok preman ini di dalam wilayah kekuasaannya. Biasanya, tidak ada yangberani datang mencari masalah dengannya.

engan mengandalkan preman–preman ini pula, Dilon sudah menyingkirkan banyak pesaingnya.

Adapun mengenai kejadian menghadapi mitra seperti menghadapi Grup Bintang Darma saat ini, bukanbaru terjadi sekali atau dua kali.

Kebanyakan orang yang berbisnis di Kota Banyuli tidak berani bermitra dengan Dilon.

Sebelumnya Elsy tidak pernah mendengar tentang Dilon, karena itulah hari ini dia bisa terjatuh dalamperangkap pria itu.

Anak buah Dilon tadi mendengus, lalu berkata dengan bangga, “Eh, bocah, kamu sudah lihat sendiri,‘kan? Saat Bos kami berkecimpung di dunia preman, kamu masih seorang bocah ingusan yang nggaktahu apa–apa selain bermain!”

“Sebaiknya kalian tahu diri dan pergi sekarang juga! Kalau nggak, biarpun kalian ingin pergi nanti,kalian nggak akan bisa pergi lagi!”

“Cepat pergi sana!”

Preman–preman lainnya juga ikut menggertak mereka.

+15 BONUS

“Pak, bagaimana kalau kita pergi dulu?” kata Elsy dengan volume suara kecil.

Seperti kata pepatah, sebaiknya seseorang mengambil tindakan berdasarkan situasi yang ada.Kelihatannya hari ini mereka sudah tidak bisa mendapatkan uang 200 millar itu kembali lagi.novelbin

Kalau mereka bersikeras bertahan di sini, mereka yang pasti akan dirugikan.

Ardika menggelengkan kepalanya dan berkata, “Mereka belum mengembalikan uang kita.”

Dilon merasa ucapan Ardika sangat konyol. Dia tertawa terbahak–bahak dan berkata, “Sepertinyaseseorang benar–benar nggak menginginkan nyawanya lagi demi uang. Hari ini aku baru pertama kalimelihat orang seperti ini!”

Kemudian, dia melemparkan sorot mata tajam sekaligus dingin ke arah Ardika.

“Siapa yang bernama Dilon?”

Tepat pada saat Dilon bersiap untuk memerintahkan anak buahnya untuk memberi pelajaran kepadaArdika, tiba–tiba terdengar suara seorang wanita.

Ardika mengangkat alisnya.

Ternyata Alden mengirim Tina ke sini.

“Eh, wanita cantik dari mana ini?”

Begitu para preman itu mengalihkan pandangan mereka ke sumber suara, mereka melihat Tina vano

memiliki rambut berwarna merah dan paras yang sangat cantik sekaligus menggoda sedang bersandardi depan pintu.

“Wanita cantik?”

Mata Dilon langsung bersinar. “Cepat persilakan dia masuk!”

Semua anak buah Dilon langsung membuka jalan untuk Tina.

Tina melenggang masuk ke dalam ruangan dengan diikuti oleh beberapa orang.

Dilon menelan air liurnya. Saking tidak bisa menahan dirinya lagi, dia langsung bangkit dari kursinyadan berkata sambil tersenyum, “Nona, siapa namamu? Ada urusan apa kamu datang menemuikusecara khusus….”

“Plak!”

Sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya, sebuah tamparan keras sudah mendarat di wajahnya.

sampai–sampai membuatnya terduduk kembali di kursinva.

Use arrow keys (or A / D) to PREV/NEXT chapter